Grand Hyatt tower by UNStudio

Posted by Zefiansyah On Mei - 22 - 2009

Dutch architect Ben van Berkel of UNStudio has won a competition to design a tower that will house the Grand Hyatt Hotel in Frankfurt, Germany.. ....

Step Up on Fifth by Pugh + Scarpa Architects

Posted by Zefriansyah On Mei - 22 - 2009

Santa Monica practice Pugh + Scarpa Architects have completed a building to provide homes, support services and rehabilitation for homeless and mentally disabled people in Santa Monica, California.......

The Yas Hotel by Asymptote

Posted by Zefriansyah On Mei - 19 - 2009

The Yas Hotel by Asymptote architects is nearing completion in Abu Dhabi, UAE....

Penang Global City Center by Asymptote

Posted by Zefriansyah On Mei - 19 - 2009

The million square metre mixed-use development features two sixty-story towers and is part of the Malaysian government’s plans to boost economic growth in the area....

Download AutoCAD Mechanical 2010

Posted by Zefriansyah On Mei - 19 - 2009

Autodesk AutoCAD Mechanical 2010 Autodesk AutoCAD Mechanical 2010 WIN32-ISO....

Showing posts with label City. Show all posts
Showing posts with label City. Show all posts

Kota Sejuk Tempatnya mencuci Mata

Posted by Zefriansyah On 2:07 AM 0 comments


Saya mulai muak melihat iklan berbagai real estate yang begitu menjamur dan mewabah sambil mengusung tema-tema pemanasan global, arsitektur hijau dan gaya hidup hijau. Apalagi beberapa hari lalu saya baru saja melihat iklan 1 halaman yang mempromosikan Mega-Suburb (dengan tagline Living In Harmony dengan berbagai nama proyek berbau hijau) di Barat Jakarta. Dan sebetulnya Mega-Suburb tersebut kurang layak membawa embel-embel Jakarta - loh kan letaknya sudah di propinsi Banten, bukan di DKI Jakarta lagi.

Seperti biasa, dalam soal tren arsitektur, Indonesia agak terlambat dibandingkan negara-negara tetangganya. Ketika Ken Yeang (Malaysia) sudah lepas landas dengan Menara Mesiniaga yang diklaim sebagai bioclimatic design di tahun 1991-1993, ada dimanakah kita? Memang betul Wisma Dharmala Sakti oleh Paul Rudolph telah berdiri sejak tahun 1988 di Jakarta - tapi itupun hanyalah pengecualian, karena setelah itu minim pembangunan gedung bertingkat yang adaptif terhadap iklim Indonesia. Memang secara bentuk, Dharmala Sakti yang brutalis susah dibandingkan dengan Mesiniaga yang demikian memperhatikan efisiensi dan pemanfaatan iklim secara maksimal. Berikutnya yang mewarnai jalanan utama Jakarta adalah deretan gedung-gedung berkaca, dibentengi oleh pagar-pagar, sekaligus meminimalisasi kontak penghuni gedung dan lingkungan sekitar.

Diatas hanyalah secuil contoh.

Suburbanisasi yang diwujudkan dengan munculnya perumahan real estate di daerah pinggiran Jakarta, seakan menjanjikan apa yang disebut Impian Jakarta ( seperti AS dengan American Dream dan aglomerasi suburb nya). Hal itupun didorong dengan semakin mahalnya harga tanah dan memburuknya kualitas lingkungan hidup. Pada akhirnya mendorong sebagian masyarakat Jakarta untuk menetap di pinggiran Jakarta (termasuk saya 2 tahun yang lalu).
Padahal perpindahan mereka tanpa diikuti dengan perubahan pola hidup dan jejaring hidup justru merupakan asal mula kotak pandora baru.

Pertumbuhan real estate di area suburban dan rural tentunya tidak dibarengi dengan pertumbuhan fasilitas, infrastruktur maupun integrasi zoning kota. Ditambah lagi, para developer tersebut bertendensi pada perkembangan suburban di Amerika Serikat - yang tentu saja merupakan rumah dari Megaburbia - suburban sprawling. Contoh paling mudah adalah kawasan Lippo Karawaci dan Bintaro. Perhatikan beberapa hypermarket dan pusat perbelanjaan yang tersebar di Bintaro, dengan lahan parkir tak kalah ekspansif dengan parkir Wal-Mart di berbagai suburb Amerika. Dengan pemikiran bahwa harga tanah di suburb lebih rendah dibandingkan pusat kota, tentu saja developer 'agak' semena-mena (seperti contoh diatas).
Tapi mereka lupa, kalau tanah itu tidak hanya dibanderol secara rupiah, tapi juga memiliki NILAI EKOLOGIS, yang tidak bisa dirupiahkan, didollarkan atau diemaskan.

Kembali ke judul dan kalimat diatas.

Saya merasa 'sedih' betapa fakta pemanasan global justru diangkat sebagai tema pemasaran para developmer. Coba sebutkan satu saja developer (suburb) yang tidak memasukkan unsur-unsur hijau dalam nama proyek terbarunya. Walaupun bukan menjadi namanya, tapi minimal memasukkan unsur hijau dalam tagline nya. Pada akhirnya ISU Pemanasan Global berubah menjadi TREN, tak ada bedanya ketika dekade sebelumnya para developer dilanda demam Mediterrania dll.

Kenapa bisa saya klaim demikian, gambar diatas adalah salah satu contoh termudah. Diatas sekiranya adalah salah satu proyek komersial baru di perumahan yang selalu menggembar-gemborkan gaya hidup hijau dan bersahabat dengan lingkungan. Cermati dengan baik, bagaimana cara penghuni suburban itu untuk datang ke pusat komersial itu ? Hmmm, tidak ada halte; hmmm, tidak ada pedestrian; Sepeda mungkin - eh tidak ada jalur sepeda. Hmmmm, yang ada lapangan parkir dengan luas sebesar deretan ruko didepannya. Hmmm, ada tanah kosong didepannya, yang jelas tanah itu bukan untuk resapan air, karena pasti bakal dibangun kompeks ruko baru. Hmmm, kalau begitu, cara saya kesitu HARUS DENGAN MOBIL PRIBADI !

Kalau dilihat lebih detil lagi, hadap kemana ya bangunannnya ? Area parkir beraspal pun saingan dengan besaran rukonya. Berarti dimanakah si air harus meresap ? Dan kecuali pihak developer tersebut menggunakan Uchimizu Pave (yang mampu mengurangi panas yang ditimbulkan kontak radiasi sinar matahari dengan permukaan keras) - yang jelas aspal di sepanjang area parkir dan sirkulasi itu menjadi kontributor efek rumah kaca.

Atau satu lagi dari developer lain seperti gambar dibawah ini:



Apakah dengan menempatkan sembarang pohon di berbagai tempat berarti mereka berhak membawa tagline Living In Harmony ? Dan sedihnya dalam penjelasan di website mereka, tertulis sebagai berikut: An impressive 42 Ha of green pastures ready to be transformed to the next busiest Central Business District in Jabodetabek. Not too worry, Sunburst is located at the heart of BSD City, where traffic and transportation infrastructures are neatly and efficiently mapped out for a much comfortable and safe driving. BSD City is conveniently accessible by 2 main Toll Roads from the West and the South, and strategically located close to South Jakarta’s business centers.

Klaim diatas berasal dari pengembang yang turut membangun produk seperti dibawah ini:



Dan, tak perlu mulai dengan membahas cluster-cluster hunian yang mengklaim dirinya sebagai developer 'hijau'. Kalau hal tersebut dibahas, maka entri ini akan berubah menjadi essay 10 halaman.

Singkatnya begini, baik bilanya mereka mengklaim desain rumahnya sebagai sangat 'HIJAU': ada panel surya lah, ada resapan air lah, atau ada yang mengaku akan daur ulang air, ada roof garden lah, etc etc. Tapi sepertinya para developer itu perlu disekolahkan lagi, bahwa Livable City/Sustainable City/Green City or whatever itu tidak hanya membutuhkan keseimbangan ekologis saja, tapi juga secara sosial dan ekonomi. Betapa sempit pemikirannya, hanya berhenti sampai di 'aksesoris'.

Dan saya bakal tidak bisa berhenti apabila berlanjut ke proyek-proyek yang berlokasi di bekas hutan bakau atau lahan reklamasi. Untungnya saya belum menemukan bukti bahwa mereka para terdakwa perusakan hutan bakau ini mengusung tema hijau dalam penjualan McMansions mereka.

Memang tidak semua suburb community jelek, seperti contohnya di Amerika Serikat - dengan Woodlands di Houston. Dan kota metropolitan pun tak kalah bersaing dengan suburb-suburb dalam kontribusi pemanasan global. Metropolitan pun memberi kontribusi dengan Urban Heat Islands nya.

Tapi perkembangan dan mewabahnya suburb di tepian Metropolitan Jakarta semakin mengkhwatirkan. Bukannya tak mungkin apabila tidak dikendalikan, daerah penyangga metropolitan pun habis dibabat oleh suburb-suburb itu. Bukannya tak mungkin mereka membebani kota induknya (Jakarta) diperparah dengan ketidakmampuan Jakarta menyajikan solusi infrastruktur yang efisien dan efektif.

Karenanya, wahai kalian developer, malulah kalian menyandang embel-embel hijau.

Dan, ya, saya memberikan alasan bagi kalian para developer untuk memulai studi ke Eropa. Familiar dengan Smart Growth ? Apabila kalian tidak mampu menghentikan rasa lapar terhadap pembukaan lahan, tengoklah Smart Growth - janganlah terus bertumbuh seperti orang kalap.

Picture Credit:
Saya tidak ingin mengungkapkan siapa-siapa developer yang menjadi sumber diatas, tapi gambar tersebut ditautkan langsung pada situs developer.(by zefry)

Kota Sejuk Tempatnya mencuci Mata

Posted by Zefriansyah On 2:07 AM 1 comments


Saya mulai muak melihat iklan berbagai real estate yang begitu menjamur dan mewabah sambil mengusung tema-tema pemanasan global, arsitektur hijau dan gaya hidup hijau. Apalagi beberapa hari lalu saya baru saja melihat iklan 1 halaman yang mempromosikan Mega-Suburb (dengan tagline Living In Harmony dengan berbagai nama proyek berbau hijau) di Barat Jakarta. Dan sebetulnya Mega-Suburb tersebut kurang layak membawa embel-embel Jakarta - loh kan letaknya sudah di propinsi Banten, bukan di DKI Jakarta lagi.

Seperti biasa, dalam soal tren arsitektur, Indonesia agak terlambat dibandingkan negara-negara tetangganya. Ketika Ken Yeang (Malaysia) sudah lepas landas dengan Menara Mesiniaga yang diklaim sebagai bioclimatic design di tahun 1991-1993, ada dimanakah kita? Memang betul Wisma Dharmala Sakti oleh Paul Rudolph telah berdiri sejak tahun 1988 di Jakarta - tapi itupun hanyalah pengecualian, karena setelah itu minim pembangunan gedung bertingkat yang adaptif terhadap iklim Indonesia. Memang secara bentuk, Dharmala Sakti yang brutalis susah dibandingkan dengan Mesiniaga yang demikian memperhatikan efisiensi dan pemanfaatan iklim secara maksimal. Berikutnya yang mewarnai jalanan utama Jakarta adalah deretan gedung-gedung berkaca, dibentengi oleh pagar-pagar, sekaligus meminimalisasi kontak penghuni gedung dan lingkungan sekitar.

Diatas hanyalah secuil contoh.

Suburbanisasi yang diwujudkan dengan munculnya perumahan real estate di daerah pinggiran Jakarta, seakan menjanjikan apa yang disebut Impian Jakarta ( seperti AS dengan American Dream dan aglomerasi suburb nya). Hal itupun didorong dengan semakin mahalnya harga tanah dan memburuknya kualitas lingkungan hidup. Pada akhirnya mendorong sebagian masyarakat Jakarta untuk menetap di pinggiran Jakarta (termasuk saya 2 tahun yang lalu).
Padahal perpindahan mereka tanpa diikuti dengan perubahan pola hidup dan jejaring hidup justru merupakan asal mula kotak pandora baru.

Pertumbuhan real estate di area suburban dan rural tentunya tidak dibarengi dengan pertumbuhan fasilitas, infrastruktur maupun integrasi zoning kota. Ditambah lagi, para developer tersebut bertendensi pada perkembangan suburban di Amerika Serikat - yang tentu saja merupakan rumah dari Megaburbia - suburban sprawling. Contoh paling mudah adalah kawasan Lippo Karawaci dan Bintaro. Perhatikan beberapa hypermarket dan pusat perbelanjaan yang tersebar di Bintaro, dengan lahan parkir tak kalah ekspansif dengan parkir Wal-Mart di berbagai suburb Amerika. Dengan pemikiran bahwa harga tanah di suburb lebih rendah dibandingkan pusat kota, tentu saja developer 'agak' semena-mena (seperti contoh diatas).
Tapi mereka lupa, kalau tanah itu tidak hanya dibanderol secara rupiah, tapi juga memiliki NILAI EKOLOGIS, yang tidak bisa dirupiahkan, didollarkan atau diemaskan.

Kembali ke judul dan kalimat diatas.

Saya merasa 'sedih' betapa fakta pemanasan global justru diangkat sebagai tema pemasaran para developmer. Coba sebutkan satu saja developer (suburb) yang tidak memasukkan unsur-unsur hijau dalam nama proyek terbarunya. Walaupun bukan menjadi namanya, tapi minimal memasukkan unsur hijau dalam tagline nya. Pada akhirnya ISU Pemanasan Global berubah menjadi TREN, tak ada bedanya ketika dekade sebelumnya para developer dilanda demam Mediterrania dll.

Kenapa bisa saya klaim demikian, gambar diatas adalah salah satu contoh termudah. Diatas sekiranya adalah salah satu proyek komersial baru di perumahan yang selalu menggembar-gemborkan gaya hidup hijau dan bersahabat dengan lingkungan. Cermati dengan baik, bagaimana cara penghuni suburban itu untuk datang ke pusat komersial itu ? Hmmm, tidak ada halte; hmmm, tidak ada pedestrian; Sepeda mungkin - eh tidak ada jalur sepeda. Hmmmm, yang ada lapangan parkir dengan luas sebesar deretan ruko didepannya. Hmmm, ada tanah kosong didepannya, yang jelas tanah itu bukan untuk resapan air, karena pasti bakal dibangun kompeks ruko baru. Hmmm, kalau begitu, cara saya kesitu HARUS DENGAN MOBIL PRIBADI !

Kalau dilihat lebih detil lagi, hadap kemana ya bangunannnya ? Area parkir beraspal pun saingan dengan besaran rukonya. Berarti dimanakah si air harus meresap ? Dan kecuali pihak developer tersebut menggunakan Uchimizu Pave (yang mampu mengurangi panas yang ditimbulkan kontak radiasi sinar matahari dengan permukaan keras) - yang jelas aspal di sepanjang area parkir dan sirkulasi itu menjadi kontributor efek rumah kaca.

Atau satu lagi dari developer lain seperti gambar dibawah ini:



Apakah dengan menempatkan sembarang pohon di berbagai tempat berarti mereka berhak membawa tagline Living In Harmony ? Dan sedihnya dalam penjelasan di website mereka, tertulis sebagai berikut: An impressive 42 Ha of green pastures ready to be transformed to the next busiest Central Business District in Jabodetabek. Not too worry, Sunburst is located at the heart of BSD City, where traffic and transportation infrastructures are neatly and efficiently mapped out for a much comfortable and safe driving. BSD City is conveniently accessible by 2 main Toll Roads from the West and the South, and strategically located close to South Jakarta’s business centers.

Klaim diatas berasal dari pengembang yang turut membangun produk seperti dibawah ini:



Dan, tak perlu mulai dengan membahas cluster-cluster hunian yang mengklaim dirinya sebagai developer 'hijau'. Kalau hal tersebut dibahas, maka entri ini akan berubah menjadi essay 10 halaman.

Singkatnya begini, baik bilanya mereka mengklaim desain rumahnya sebagai sangat 'HIJAU': ada panel surya lah, ada resapan air lah, atau ada yang mengaku akan daur ulang air, ada roof garden lah, etc etc. Tapi sepertinya para developer itu perlu disekolahkan lagi, bahwa Livable City/Sustainable City/Green City or whatever itu tidak hanya membutuhkan keseimbangan ekologis saja, tapi juga secara sosial dan ekonomi. Betapa sempit pemikirannya, hanya berhenti sampai di 'aksesoris'.

Dan saya bakal tidak bisa berhenti apabila berlanjut ke proyek-proyek yang berlokasi di bekas hutan bakau atau lahan reklamasi. Untungnya saya belum menemukan bukti bahwa mereka para terdakwa perusakan hutan bakau ini mengusung tema hijau dalam penjualan McMansions mereka.

Memang tidak semua suburb community jelek, seperti contohnya di Amerika Serikat - dengan Woodlands di Houston. Dan kota metropolitan pun tak kalah bersaing dengan suburb-suburb dalam kontribusi pemanasan global. Metropolitan pun memberi kontribusi dengan Urban Heat Islands nya.

Tapi perkembangan dan mewabahnya suburb di tepian Metropolitan Jakarta semakin mengkhwatirkan. Bukannya tak mungkin apabila tidak dikendalikan, daerah penyangga metropolitan pun habis dibabat oleh suburb-suburb itu. Bukannya tak mungkin mereka membebani kota induknya (Jakarta) diperparah dengan ketidakmampuan Jakarta menyajikan solusi infrastruktur yang efisien dan efektif.

Karenanya, wahai kalian developer, malulah kalian menyandang embel-embel hijau.

Dan, ya, saya memberikan alasan bagi kalian para developer untuk memulai studi ke Eropa. Familiar dengan Smart Growth ? Apabila kalian tidak mampu menghentikan rasa lapar terhadap pembukaan lahan, tengoklah Smart Growth - janganlah terus bertumbuh seperti orang kalap.

Picture Credit:
Saya tidak ingin mengungkapkan siapa-siapa developer yang menjadi sumber diatas, tapi gambar tersebut ditautkan langsung pada situs developer.(by zefry)

air tree, solar energy product, madrid green design, madrid eco trees, madrid air trees, madrid energy, solar energy, solar power, urban solar plans

The city of Madrid soon plans to add a striking new structure that will “climatically transform” its urban architecture. Designed by Urban Ecosystems, the Air Tree pavilion is to be built from recycled materials and will be 100% energy self-sufficient. Using photovoltaic cells, the Air Tree produces a substantial amount of energy, which is then sold back to the local electric companies, the profits being used for maintenance of the structure. The second byproduct is of course oxygen - hence the name ‘Air Tree’!


air-tree-2.jpg, air tree, solar energy product, madrid green design, madrid eco trees, madrid air trees, madrid energy, solar energy, solar power, urban solar plans

We’ve written about the Madrid Air-Tree before, when the design ‘Ecoboulevard’ for industrial revitalization won the AR Awards for Spanish Architecture group Urban Ecosystems. Aside from their aesthetic appeal, the trees have a very interesting benefit for the local residents who have to suffer through hot Spanish summers. The surrounding environment near the air tree will be naturally conditioned, reducing the heat island effect found in most city centers. The air trees will be implemented city wide in the coming years.

Furthermore, the structure, made from lightweight recycled materials, can be easily disassembled and moved to another site when needed. This feature makes the entire idea really intruding because dozens of air trees can be installed in cities around major metropolitan areas during summers. The trees will cool the surrounding environments and as a bonus generate clean electricity. If the idea catches on, don’t be surprised to see an air tree in the city near you very soon.

+ Urban Ecosystems

+ Ecoboulevard wins AR Awards

air-tree-3.jpg, air tree, solar energy product, madrid green design, madrid eco trees, madrid air trees, madrid energy, solar energy, solar power, urban solar plans

air-tree-4.jpg, air tree, solar energy product, madrid green design, madrid eco trees, madrid air trees, madrid energy, solar energy, solar power, urban solar plans

air-tree-6.jpg, air tree, solar energy product, madrid green design, madrid eco trees, madrid air trees, madrid energy, solar energy, solar power, urban solar plans

air-tree-5.jpg, air tree, solar energy product, madrid green design, madrid eco trees, madrid air trees, madrid energy, solar energy, solar power, urban solar plans

(by zefry)

Keindahan Arsitektur di Dubai

Posted by Zefriansyah On 2:48 AM 0 comments
Dubai salah satu wilayah di timur tengah yang saat ini sedang mengalami proses modernisasi, pembangunan sarana fisik sedang giat dilaksanakan, pembangunan ini diperuntukkan bagi masyarakat dubai sendiri maupun masyarakat asing yang berwisata ke dubai, telah muncul beberapa rencana pembangunan seperti :

Palm Island.

Merupakan tiga buah pulau buatan yang berbentuk seperti pohon kurma dan akan dijadikan sebagai tempat penampungan 500 apartemen, 2000 vila, 25 hotel serta 200 retail mewah .

The World.

Hampir terdiri dari 300 pulau buatan, adapun harga dari salah satu pulau ini 6,2 sampai 36,7 juta dolar.

Dubai Waterfront.

Merupakan pengembangan dari beberapa bentuk pulau buatan seperti palm island. Luasnya 81 kilometres persegi dan menjadi pulau buatan terbesar didunia.

Burj Dubai.

Merupakan bangunan fenomenal dengan ketingiannya mencapai 800 meter. Bangunan ini akan dibuat dalam 3 bagian yang akan mengelilingi kolom pusatnya dan selesai dalam bentuk spiral.

Old Town.

Merupakan wilayah berlokasinya burj dubai, terdiri dari beberapa bangunan monumental berupa bangunan tertinggi didunia dan pusat perbelanjaan terbesar dunia.


Hydropolis.

Di buat di Jerman, yang merupakan hotel bawah laut dimana sebagian akan terapung Hotel ini akan mempunyai 220 jendela yang memberikan panorama bawah laut akan tetapi harga menginap satu malamnya cukup mahal yakni 500 dolar.

Dubai Sports City.

Merupakan area olah raga yang sangat besar 7.5 km persegi dan akan mengakomodasi olah raga seperti cricket, golf, Rugby, sepakbola, dll.

Dubailand Ski Dome.

Merupakan area permainan ski yang ada dalam ruangan. Akan menjadi area permainan ski dan snowboard dengan 6 000 ton salju asli, dilengkapi pula dengan hiburan dan fasilitas lainnya.

Space Science World.

Luar angkasa menjadi bagian yang akan menarik bagi pengunjung Dubailand dan akan dijadikan sebagai area berwisata terbesar didunia. (by zefry)


    Featured-video

    Facebook